Menjadi seorang ibu dengan anak-anak yang cerdas adalah
dambaan bagi seluruh wanita. Mendidik suatu generasi adalah hal yang
tidak mudah, namun sangatlah menentukan bagi kehidupan di negara ini.
Bagaimana negara ini akan maju, bila tunas-tunas bangsa tidak dididik
dengan benar? Ibu adalah sekolah pertama bagi setiap anak yang
dilahirkan. Butuh pengorbanan dan kerja keras untuk Mendidik sang buah
hati tercinta.
Hal itu pun berlaku bagi saya yang memiliki satu orang
putri yang bernama Aina Alimatul Ulya. Kini usianya 10 bulan dan rasa
ingin tahunya sangatlah tinggi. Baginya, semua yang dia lihat adalah hal
baru yang patut dicoba. Tentu saya sebagai ibu dengan setia mendapingi
buah hati saya dengan sepenuh hati. Diusianya yang kini memasuki tahap
oral dalam dunia Psikologi atau dengan kata lain suatu tahapan yang akan
dilalui oleh setiap anak dimana pada tahap ini anak akan mengenal benda
melalui mulutnya. Inilah awal anak saya mengeksplorasi apapun yang ada
disekitarnya dengan mulutnya. Apapun yang dia pegang pasti akan
diseleksi oleh mulutnya yang mungil. Disinilah peran aktif orang tua,
khususnya saya dalam mendampingi sang anak untuk lebih selektif dalam
memilih benda yang aman disekitarnya.
Karena rasa ingin tahunya yang begitu tinggi, hal ini
membuatnya tidak mudah,menyerah dalam melakukan aktivitas. Salah satu
contohnya adalah ketika ada benda terjatuh dari genggamannya, dengan
sigap anak saya akan mengambil benda tersebut walaupun benda itu cukup
jauh jatuhnya. Walaupun jatuh hingga berkali-kali, dia tidak putus asa
untuk mengambilnya kembali.
Disamping dia mengenal benda-benda disekitarnya dengan
indera perasa, peraba dan penglihatan, dia pun akan semakin familier
dengan benda-benda tersebut ketika ditemuinya di tempat lain. Karena
daya ingat anak sangatlah kuat, jika diasah terus menerus. Apalagi jika
lingkungan keluarga dan masyarakat turut mendukung pertumbuhan si kecil.
Perkembangan yang baik adalah jika lingkungan pun baik. Hal ini akan
mempengaruhi interaksi si kecil dengan dunia luar.
